Fenomena Masalah Kehidupan

Dalam kehidupan banyak sekali fenomena masalah kali ini akan membahas fenomena tentang krisis sumber daya air bersih di Indonesia.

Air merupakan unsure utama yang penting dalam kehidupan manusia.  Seseorang tidak dapat bertahan hidup tanpa air, karena itulah air merupakan salah satu penopang hidup bagi manusia. Ketersediaan air di dunia ini begitu melimpah ruah, namun yang dapat dikonsumsi oleh manusia untuk keperluan air minum sangatlah sedikit. Dari total jumlah air yang ada, hanya lima persen saja yang tersedia sebagai air minum, sedangkan sisanya adalah air laut. Selain itu, kecenderungan yang terjadi sekarang ini adalah berkurangnya ketersediaan air bersih itu dari hari ke hari. Semakin meningkatnya populasi, semakin besar pula kebutuhan akan air minum. Sehingga ketersediaan air bersih pun semakin berkurang.  Air adalah salah satu komponen yang mutlak diperlukan untuk kehidupan semua makhluk dan jasad hidup di bumi. Keberadaan air di bumi ini terdistribusi dan bergerak dalam suatu siklus yang terjadi oleh energi alamiah. Bahwa semua kehidupan itu memerlukan adanya air, tertulis dalam Kitab Al Qur’an Surat Al-Anbiyaa’ Ayat 30, dimana Allah berfirman : Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? Jadi jelaslah bahwa kehidupan di bumi hanya dapat terjadi dan berlangsung oleh tersedianya air.

Penelitian WHO mengenai penyediaan air bersih dan sanitasi dengan kesehatan, mengemukakan beberapa penyakit lain seperti : kolera, hepatitis, polimearitis, typoid, disentrin trachoma, scabies, malaria, yellow fever, dan penyakit cacingan.
Penelitian WHO mengenai hubungan penyediaan air bersih dan sanitasi dengan kesehatan, menghasilkan pengklasifikasian seperti yang terlihat pada tabel berikut:

Jenis Penyakit & Langkah Perbaikan yang Perlu Dilakukan
Jenis Penyakit Langkah Perbaikan yang Perlu Dilakukan
Cholera, Hepatitis, Polimearitis Peningkatan kualitas air bersih
Typoid, Disentrin Trachoma, Scabies Peningkatan kuantitas dan kualitas air bersih
Malaria, Yellow-fever Peningkatan kualitas air bersih
Penyakit Cacing Perbaikan sanitasi

Di Indonesia terdapat empat dampak kesehatan besar disebabkan oleh pengelolaan air dan sanitasi yang buruk, yakni diare, tipus, polio dan cacingan. Hasil survei pada tahun 2006 menunjukkan bahwa kejadiaan diare pada semua usia di Indonesia adalah 423 per 1.000 penduduk dan terjadi satu-dua kali per tahun pada anak-anak berusia di bawah lima tahun.
Data dari Direktorat Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan menyebutkan, pada tahun 2001 angka kematian rata-rata yang diakibatkan diare adalah 23 per 100.000 penduduk, sedangkan angka tersebut lebih tinggi pada anak-anak berusia di bawah lima tahun, yaitu 75 per 100.000 penduduk. Kematian anak berusia di bawah tiga tahun 19 per 100.000 anak meninggal karena diare setiap tahunnya-salah satu penyebab kematian anak (lainnya karena ISPA/infeksi saluran penapasan akut, dan komplikasi sebelum kelahiran) -data dari Profil Kesehatan Indonesia, 2003. Sedangkan untuk kejadian tipus di Indonesia adalah 350-810 per 100.000 penduduk. Studi klinis rumah sakit menunjukkan bahwa angka kesakitan tipus adalah 500 per 100.000 penduduk dan laju kematian adalah 0,6%-5%. Kematian akibat polio telah terjadi di Indonesia (di Provinsi Jawa Barat) pada seorang anak laki-laki berusia di bawah dua tahun. Selain itu, prevalensi cacingan di Indonesia adalah 35,3 %. Kerugian ekonomi sekitar 2,4 % dari GDP atau 13 dollar AS per bulan per rumah tangga (studi Asian Development Bank 1998).
Penyakit yang paling sering menyerang saat krisis air bersih melanda adalah diare. Penyakit yang juga populer dengan nama muntah berak (muntaber) ini bisa dikatakan sebagai penyakit endemis di Indonesia, artinya terjadi terus-menerus di semua daerah, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Diare yang disertai gejala buang air terus menerus, muntah dan kejang perut sering dianggap bisa sembuh dengan sendirinya tanpa perlu pertolongan medis. Diare memang jarang sekali yang mengakibatkan kematian, namun tidak boleh dianggap remeh. Kelangkaan air bersih dan gaya hidup yang jorok adalah penyebab dari penyakit ini. Gaya hidup yang tidak higienis & tidak memperhatikan sanitasi menyebabkan usus rentan terhadap serangan virus diare. Kasus diare yang tidak cepat ditangani dapat menyebabkan dehidrasi yang jika dibiarkan dapat berujung pada kematian. Tanda seseorang menderita diare adalah apabila frekuensi buang air besarnya lebih sering dari normal. Kotoran yang keluar encer dan terdiri dari banyak cairan. Dan gejala seperti ini bisa jadi hanya gejala penyakit yang lebih parah, yakni tipus dan kanker usus. Sebenarnya pencegahan penyakit ini sangat mudah, yakni dengan menjaga kebersihan tubuh, makanan dan minuman. Namun bagi penduduk di mana air bersih sangat sulit mengalir, tindakan tersebut tidak bisa dengan mudah dilakukan.
Sebenarnya ada empat intervensi yang dapat dilakukan untuk mencegah diare, yaitu pengolahan air dan penyimpanan di tingkat rumah tangga, melakukan praktik cuci tangan, meningkatkan sanitasi, mengingkatkan penyediaan air. Setiap intervensi memiliki memiliki dampak yang berbeda-beda terhadap diare. Data tahun 2006 dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa:
No. Intervensi Penurunan Angka Kejadian Diare
1 Berbagai intervensi perilaku melalui modifikasi lingkungan 94%
2 Pengolahan air yang aman dan penyimpanan di tingkat rumah tangga 39%
3 Melakukan praktik cuci tangan yang efektif 45%
4 Meningkatkan sanitasi 32%
5 Meningkatkan penyediaan air 25%

Selain diare, daerah yang terkena krisis air bersih juga rentan terhadap penyakit kulit menular. Penyakit gatal-gatal tersebut dikarenakan para warga yang jarang mandi karena terbatasnya pasokan air bersih yang mereka miliki. Air bersih yang mereka miliki hanya cukup digunakan untuk kebutuhan dapur.
Dampak Bagi Ekonomi
Krisis air bersih memberikan dampak pada bidang ekonomi. Sekitar 65 persen penduduk Indonesia menetap di pulau jawa yang luasnya hanya tujuh persen dari seluruh luas daratan Indonesia sementara potensi air yang dimiliki hanyalah 4,5 persen dari total potensi air di Indonesia. Dalam dua dasawarsa berikutnya diperkirakan air yang dipergunakan manusia akan meningkat 40 persen dan 17 persen lebih pasokan air dipergunakan untuk meningkatkan pangan dan populasi. Disisi lain kondisi sumber-sumber air semakin parah, khususnya di negara-negara miskin karena masalah pencemaran dan limbah. Oleh karena itu telah diserukan investasi dalam pengadaan air oleh AS dan membiarkan sektor swasta untuk menyediakan air atau privatisasi air. Permasalahan privatisasi air di Indonesia sekarang menjadi lebih rumit karena hampir semua Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) saat ini dalam kondisi tidak mampu membayar utang-utangnya. Dalam situasi seperti inilah, maka privatisasi air seolah-olah merupakan obat mujarab untuk membereskan masalah air bersih. Sekarang ini UU RI No.7 Tahun 2004 tentang sumber daya air yang didalamnya mengandung semangat privatisasi pengelolaan air telah disahkan. Pemerintah Daerah diminta mengupayakan sendiri pembiayaan pengelolaan air tersebut, atau dengan jalan mencari investor.
Di Jakarta, 95 persen saham perusahaan pengelolaan air minum dimiliki dua perusahaan asing, RWE Thames dari Inggris dan Ondeo Suez asal Perancis. Di daerah lain pun sejumlah perusahaan besar dunia di sektor air telah beroperasi. Misalnya, Biwater di Batam dan Palembang; Ondo Suez di Medan, Semarang, dan Tangerang; Thames Water di Sidoarjo; dan Vivendi yang juga beroperasi di Sidoarjo. Pemberlukan UU Nomor 7 Tahun 2004 dimana sektor swasta diperbolehkan untuk mengelola sumber daya air di Indonesia dianggap pemerintah sebagai solusi untuk pengelolaan sumber daya air. dengan harapan jika masyarakat diberi nilai air secara ekonomis tinggi, maka perlakukan masyarakat terhadap air menjadi berbeda: lebih hemat, menjaga dan mensyukuri.
Sebenarnya, privatisasi tersebut akan membuat akses masyarakat terhadap air menjadi terbatas dan mahal. Karena seluruh biaya pengelolaan dan perawatan jaringan air dan sumber air lainnya bergantung semata pada pemakai dalam bentuk tarif. Sebenarnya dengan komersialisasi air, mereka yang memiliki uang paling banyaklah yang akan mendapat air paling banyak. Masyarakat miskin yang tidak punya uang justru makin sulit mendapat air sehingga banyak orang yang tidak mampu mendapat air sehat untuk minum. Contoh kasus yang terjadi di Jakarta Utara menurut pengakuan seorang warga yang dikutip dari http://www.kompas.com mengatakan bahwa ”Uang yang semula disimpan untuk belanja kebutuhan lain, seperti beras dan minyak tanah, diambil buat membeli air. Kami terbebani.”

Kalau volume air tawar yang ada di dalam tanah (aquifer), di danau, di rawa dan sungai yang jumlahnya kurang dari 1% dari jumlah air yang ada di bumi ini dibagi rata dengan seluruh penduduk di bumi yang jumlahnya kurang lebih 6 milyard orang maka setiap orang akan mendapat bagian air kira-kira 1700 m3. Jadi kalau setiap orang mengkonsumsi air sesuai dengan standard WHO yaitu minimal 50 liter air bersih per orang perhari maka air sebanyak 1700 m3 tersebut akan habis dalam waktu kira-kira 80 – 90 tahun. Dengan demikian air tawar yang kita butuhkan setiap hari sekarang seharusnya sudah habis, karena sejak beribu tahun yang lalu manusia dan kehidupan lainnya yang membutuhkan air sudah ada di muka bumi ini. Tetapi kenyataannya kita semua sampai sekarang masih bisa hidup, masih bisa minum air, masih bisa mandi 2 kali sehari, masih bisa mengairi tanaman, masih bisa berenang dikolam renang dan lain sebagainya. Itu semua terjadi karena Allah telah menciptakan suatu mekanisme kolosal alamiah ilmiah maha canggih yang oleh manusia sekarang dinamakan siklus hidrologi, dimana setiap hari dialirkan berjuta-juta m3 air tawar yang berasal dari penguapan air asin di laut. Dalam siklus hidrologi tersebut air asin di lautan. oleh sinar matahari diuapkan secara terus menerus tanpa henti sehingga diperoleh uap air yang bersifat tawar. Uap air pada suhu dan tekanan udara tertentu, dirubah menjadi hujan yang turun ke permukaan bumi dimana manusia bermukim. Fenomena ini juga tertulis dalam Kitab Al Qur’an Surat An Naba’ Ayat 14 : Dan Kami turunkan dari awan-awan itu air yang tercurah (hujan). Dengan mekanisme ini maka air di bumi selalu terbarukan dengan terjadinya presipitasi uap air yang terkondensasi dalam siklus hidrologi yang setiap tahun berjumlah antara 107.000 – 119.000 km3. Secara teoritis jumlah tersebut sangat berlebih untuk digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar kehidupan dan aktivitas manusia selama lingkungan yang menjadi prasarat berlangsungnya siklus tersebut terjaga kelestari-annya. Disini jelaslah bagaimana kemurahan Allah SWT kepada umat-Nya yang telah menyediakan salah satu unsur untuk kehidupan manusia, yaitu kebutuhan akan air tawar. Allah tidak menurunkan atau menjadikan hujan di seluruh permukaan bumi secara terus-menerus sepanjang hari, sepanjang bulan dan sepanjang tahun diseluruh muka bumi, walaupun penguapan air laut berlangsung terus. Oleh karena itu agar manusia tetap mendapatkan air tawar maka Allah membuat kantong-kantong air tawar di dalam tanah yang dinamakan akuifer, membuat danau dan sungai-sungai untuk menyimpan dan mendistribusikan air tawar untuk manusia. Fenomena alam tersebut diatas bukan suatu fenomena yang terjadi dengan begitu saja, tetapi terjadi atas kehendak dan diciptakan oleh Allah SWT, karena semua itu tertulis dalam Kitab Al Qur’an Surat Al Waqi’ah Ayat 68 : Maka apakah kamu memperhatikan tentang air yang kamu minum?, Ayat 69 : Apakah kamu yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? dan Ayat 70 : Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?

Dari pemahaman akan ketersediaan sumber air di bumi, maka manusia yang diciptakan sebagai makhluk yang mempunyai penalaran dan daya pikir, yang termanifestasi dalam ujud ilmu pengetahuan, mereka harus menyadari bahwa air yang menjadi kebutuhan dasar manusia tersebut harus dicari keberadaannya, diusahakan untuk mendapatkannya dan dikelola untuk kelangsungan hidup generasi penerusnya. Sebab kalau tidak maka ketersediaan air di bumi lama kelamaan akan menyusut dan berkurang secara terus menerus, karena sumber air tidak terdistribusi merata di seluruh lapisan bumi dan ketersediaanya juga tidak tak terbatas. Di berbagai negara dan wilayah, gejala kekurangan air sudah kelihatan. Karena memang menjadi kenyataan bahwa manusia di bumi ini makin bertambah jumlahnya, sehingga tidak saja mereka memerlukan air yang akan digunakan secara langsung tapi juga yang dibutuhkannya untuk pengairan perluasan lahan pertanian, proses industri dan aktivitas lainnya, yang justru jauh lebih besar diperlukannya dibandingkan dengan kebutuhan untuk keperluan pribadi. Oleh karena itu pengelolaan sumber daya air yang dilakukan oleh  kalifah yang mendapat amanah dari Allah SWT perlu dilaksanakan secara  komprehensif dan bersifat jangka panjang, sebelum peristiwa  kelangkaan sumber daya air secara nyata dan merata dihadapi oleh manusia, baik dalam lingkup lokal, lingkup provinsi, lingkup negara, lingkup regional atau dalam suatu wilayah tertentu.

Ketersediaan Dan Penggunaan Air

Air yang terdapat di planet bumi kita, sebagian besar adalah air asin yang berada di lautan. Secara global air terdistribusi oleh suatu siklus yang dinamakan siklus hidrologi, dimana uap air yang sebagian besar berasal dari penguapan air laut dan air yang ada di permukaan tanah, oleh aliran udara dibawa ke arah daratan dan pada lokasi dan kondisi tertentu uap air tersebut terkondensasi sebagai hujan.

Air mempunyai sifat sangat unique, di alam dapat dijumpai dalam 3 macam fase yaitu fase padat berupa es dan salju, fase gas berupa uap air dan fase cair. Kehadirannya di alam ini dapat berada di atmosfer, di permukaan tanah mengalir secara lateral dan vertikal sesuai dengan hukum gravitasi dan meresap ke dalam tanah, menyusup diantara pori-pori formasi batuan yang dinamakan akuifer, dan muncul kembali berupa mata air sebagai awal terjadinya sungai untuk kembali lagi ke laut. Dengan terjadinya siklus hidrologi ini maka seharusnya ketersediaann air yang menjadi kebutuhan pokok yang sangat vital bagi manusia dapat selalu terjaga dan terbaharui secara terus menerus.

Sirkulasi air dalam siklus hidrologi membawa pengaruh sangat besar terhadap semua kehidupan dan peradaban manusia serta kehidupan flora, founa dan jasad hidup lainnya, sehingga apabila terjadi perubahan pola dan intensitasnya maka akan berdampak terhadap perubahan pola kehidupan di bumi ini. Keanekaragaman alam ditinjau dari aspek geologi, aspek vegetasi, aspek iklim dan aspek posisi global akan menentukan kemampuan suatu wilayah dapat menampung dan menyimpan air yang diperlukan oleh masyarakat setiap harinya. Dengan kondisi alam yang beraneka ragam itulah sumber air di bumi tidak terdistribusi secara merata. Ada wilayah yang secara mudah dapat mengakses air secara berlebih tetapi ada juga wilayah yang sulit untuk mendapatkan air bersih.

Beberapa fakta dan data tentang penggunaan air bersih dapat dikemukakan seperti dibawah ini.

    Menurut WHO setiap orang paling sedikit membutuhkan air bersih 50 liter setiap harinya. Akan tetapi banyak negara di Afrika, Timur Tengah, Asia Barat, dan beberapa negara di Eropa Timur sebagian besar penduduknya hanya dapat menggunakan air kurang dari 50 liter perhari.

    Karena laju pertumbuhan penduduk dunia yang cukup besar maka perolehan air bersih turun dari 12900 m3 per kapita pertahun pada tahun 1970 menjadi 9000 m3 per kapita per tahun pada tahun 1990, dan pada tahun 2000 turun lagi menjadi 7000 m3 per kapita per tahun. Di pemukiman-pemukiman padat penduduk di Asia, Afrika dan Eropa Tengah dan Eropa Selatan perolehan air bersih berkisar antara 1200 – 5000 m3 per kapita setiap tahunnya.

    Menurut perkiraan pada tahun 2025 nanti per kapita rata-rata hanya akan mendapat air bersih sebanyak 5100 m3 per tahun dengan anggapan bahwa air terdistribusi secara merata. Karena distribusi sumber air tidak merata maka pada tahun 2025 nanti dari jumlah penduduk sebanyak 7,8 milyar ada 3 milyar orang tinggal di daerah yang sulit air, mereka hanya dapat memperoleh air kurang dari 5 liter per hari per orang untuk memenuhi kebutuhan langsungnya.

Sementara itu para ahli mengatakan bahwa terjadinya krisis air itu bukan disebabkan karena menyusutnya jumlah air secara fisik, akan tetapi lebih disebabkan oleh kurang serius dan terabaikannya manajemen sumber daya air. Selain itu banyak peri laku manusia yang belum menyadari dampak dari perbuatan mereka dalam memperlakukan sumber daya air, yang akibat negatifnya baru akan dirasakan oleh masyarakat beberapa tahun atau beberapa puluh tahun kemudian. Disini berarti bahwa konsep sustainable development masih belum terimple-mentasikan.

Dengan makin bertambahnya penduduk dengan segala aktivitasnya tersebut tentu akan menghasilkan limbah yang akhirnya mencemari sumber daya air atau dikatakan bahwa sumber air tersebut mengalami degradasi kualitas. Hal ini akan memperparah keadaan, karena air yang tercemar apabila melampaui ambang batas akan mengganggu kesehatan manusia apabila dikonsumsi. Oleh karena itu dengan terjadinya pencemaran maka ketersediaan air bersih menjadi makin berkurang jumlahnya.

Sumber air dikatakan mengalami degradasi kualitas  (mikroorganisme atau kimia) apabila  kehadiran zat pencemar akan mendatangkan bahaya atau mengancam kesehatan manusia dan lingkungan. Air tanah di dalam akuifer dapat mengalami degradasi akibat dari beberapa factor, antara lain:

    Berlangsungnya eksploitasi air tanah secara berlebihan sehingga muka air tanah turun dengan sangat cepat. Keadaan ini bukan saja akan menurunkan produktivitas akuifer bersangkutan akan tetapi dapat mendatangkan akibat yang sangat serius dan dampak yang sangat merugikan yaitu perubahan pola dinamika air tanah sehingga memungkinkan terjadinya intrusi air asin dan terjadinya land subsidence.

    Adanya kegiatan yang tidak terkontrol misalnya pembuangan limbah dan terjadinya kebocoran instalasi yang mencemari air tanah dibawahnya. Ini banyak terjadi dari kegiatan sektor industri dan rumah tangga.

    Pembukaan lahan pertanian secara extensive dengan membabat tanaman dan vegetasi, dan intensifikasi produk pertanian melalui program pemupukan dan insektisida.

Menurut laporan yang dihimpun oleh UNEP (United Nation Environmental Programme) ada 2 juta ton limbah yang setiap harinya dibuang ke kali. Pada kondisi hidrogeologi tertentu air kali dapat menjadi input untuk mengisi akuifer air tanah. Dan sekali polutan bisa masuk ke dalam akuifer dan mencemari air tanah maka usaha eliminasi bahan pencemar sangat sulit bahkan dalam prakteknya mustahil untuk dilakukan. Hal ini tentu saja akan membatasi atau mengurangi akses manusia untuk mendapatkan air bersih.

Total penduduk dunia yang pada saat ini berjumlah sekitar 6 milyard orang lebih, pada tahun 2025 jumlahnya akan menjadi 7,8 milyard orang. Orang-orang ini akan  berkompetisi dalam mencari nafkah, mereka pada umumnya berbondong-bondong menuju ke kota (Urbanisasi). Banyak kota di dunia, terutama di negara-negara berkembang, tumbuh dengan sangat cepat sehingga menjadi suatu megacity. Saat ini penduduk perkotaan dunia berjumlah 2,8 milyard orang dan diperkirakan pada tahun 2025 menjadi 4,5 milyard orang. Sebagai perbandingan pada tahun 1950 lebih kurang hanya ada 100 kota di dunia yang mempunyai penduduk lebih dari satu juta orang. Pada tahun 2025 nanti kota yang mempunyai jumlah penduduk lebih dari satu juta orang akan meningkat menjadi 650 kota. Pada tahun 2000 terdapat 23 kota dimana 18 kota terletak di negara-negara berkembang, mempunyai pendu-duk lebih dari 10 juta orang.  UN HABITAT meramalkan bahwa pada tahun 2025 tersebut setengah dari jumlah penduduk dunia akan bermukim di daerah perkotaan. Apakah daya dukung lingkungan, khususnya dalam penye-diaan air bersih, daerah perkotaan akan dapat memenuhi perkembangan tersebut. Di beberapa kota besar di dunia, misalnya Beijing, Syanghai, Dhaka, Buenos Aires, Mexiko City, Bangkok dan lainnya, suplai air banyak diambil dari air tanah. Apakah sudah dipikirkan dampak pengambilan air dari akuifer apabila dilakukan secara terus menerus dan makin bertambah apalagi kalau dilakukan tanpa memperhatikan dan memperhi-tungkan kesetimbangan hidrolo-gisnya. Sebagai contoh adalah Meksiko City yang setiap harinya momompa air tanah 3,2 milyard liter.

Bagi suatu daerah perkotaan air diperlukan bukan saja untuk keperluan rumah tangga akan tetapi juga juga digunakan untuk untuk keperluan industri dan layanan komersial lainnya, seperti hotel, perkantoran, tempat hiburan dan tempat rekreasi, sehingga cepat atau lambat air dalam akuifer akan terdegradasi dalam aspek kuantitas maupun aspek kuantitas.

Kita sering mendengar ungkapan “sustainable development” yang diterjemahkan dengan “pembangunan berkelanjutan” yang maknanya lebih kurang adalah  “kesempatan generasi sekarang memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa mengurangi generasi yang akan datang melakukan hal yang sama” (“to meet the needs of the present without compromising the ability of the future generations to meet their needs”).

Jadi pada dasarnya pembangunan berkelanjutan itu tidak hanya menyangkut masalah lingkungan hidup saja, tetapi lebih dalam lagi yaitu menyangkut hakekat keberlanjutan kehidupan umat manusia.

Kalau penanganan konservasi sumberdaya air saat ini kurang mendapat perhatian atau bahkan terabaikan maka tidak mustahil pada suatu saat nanti bila terjadi situasi krisis sumber daya air, maka dapat saja terjadi konflik kepentingan dan bahkan konflik sosial yang menjadi pemicu potensi ketidak stabilan wilayah atau negara. Kalau pada dewasa ini terjadi perang antar negara yang disebabkan karena kepentingan energi minyak bumi maka dimasa mendatang bisa saja terjadi perang antar Negara yang disebabkan oleh kepentingan penggunaan air.

Manajeman Sumber Daya Air

Seperti diketahui bahwa ketersediaan sumber air di suatu negara atau suatu wilayah terdistribusi tidak merata, tergantung dari sistem geohidrologi serta iklim setempat. Pada saat sekarangpun sudah ada negara atau wilayah yang mengalami kekurangan air untuk kehidupan penduduknya, seperti negara-negara di Afrika. Sebaliknya ada negara dan wilayah yang sumber air bersihnya masih melimpah ruah dibandingkan dengan jumlah penduduk yang memerlukannya, misalnya Finlandia, Kanada, New Zealand. Manajemen sumber daya air, baik lingkup regional, lingkup negara, lingkup provinsi, atau dalam suatu wilayah dan lokal tertentu, perlu ditempuh dari dua pendekatan yang dilakukan secara simultan, yaitu pendekatan teknis dan pendekatan kebijaksa-naan. Keduanya harus dilakukan secara terinte-grasi oleh semua pihak yang terkait, baik pihak penyedia maupun pihak pengguna sumber daya air, atau dengan kata lain harus tercipta suatu “good water governance”. Sementara para ahli mengatakan bahwa terjadinya krisis sumber daya air adalah lebih pada “governance crisis rather than water crisis”.  Hal ini karena manajemen sumber daya air kurang mendapat-kan perhatian yang semestinya.

Di Indonesia, masalah air semestinya bukan hanya menjadi tanggung jawab Menteri Lingkungan dan Prasarana Wilayah, akan tetapi juga harus melibatkan kementerian teknis lainnya, misalnya Menteri Kehutanan, Menteri Pertanian, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Menteri Perindustrian, Menteri Kelautan, Menteri Perhubungan, Menteri Lingkungan Hidup, Menteri Riset dan Teknologi dan lain-lain. Mereka harus mempunyai persepsi yang sama tentang kondisi sumber daya air yang ada serta membuat perencanaan yang terkoordinasi untuk mengantisipasi kebutuhan air untuk jangka waktu beberapa puluh tahun ke depan.

Dengan sistem pemerintahan otonomi daerah yang sekarang ini diberlakukan di Indonesia, masalah sumber daya air tidak boleh diperlakukan menurut keinginan masing-masing pemerintah daerah, karena sumber daya air tidak mengenal batas-batas administrasi kewilayahan. Mungkin saja terjadi bahwa daerah resapan air tanah suatu kabupaten atau propinsi terletak di kabupaten atau propinsi lain. Demikian pula bisa terjadi bahwa aliran suatu sungai melalui berbagai kabupaten atau propinsi, sehingga perlu dilakukan pengaturan pengelo-laan air untuk dimanfaatkan bersama. Tidak kalah pentingnya peran dari warga masyarakat dalam lingkungan RT dan RW dalam menyikapi akan pentingnya air. Mereka harus dapat mentransformasikan pola pikir bahwa air selain diperlukan untuk dirinya sendiri juga untuk warga lingkungannya dan untuk generasi anak dan cucunya, sehingga semua warga harus terobsesi untuk selalu memelihara kelestarian sumber daya air dalam aspek kuantitas maupun kualitas.

Profil Sumber Daya Air Di Indonesia

Di Indonesia, pengelolaan air tanah dilakukan berdasarkan satuan cekungan air (groundwater basin). Dalam disiplin hidrogeologi cekungan air tanah didefinisikan sebagai reservoir air tanah yang terdapat dibawah permukaan tanah dalam lingkup batas-batas hidrogeologi dari daerah recharge sampai daerah discharge. Bata-batas hidrogeologi dari suatu cekungan secara alamiah ditentukan oleh struktur formasi batuan, bukan oleh batas-batas administrasi kewilayahan. Pada dewasa ini sebanyak 232 cekungan air tanah telah dapat diidentifikasi, yaitu 53 cekungan di Sumatra, 70 cekungan di Jawa, 15 cekungan di Kalimantan, 40 cekungan di Sulawesi, 3 cekungan di Bali, 8 cekungan di Nusa tenggara Barat, 20 cekungan di Nusa Tenggara Timur, 6 cekungan di Maluku dan 17 cekungan di Irian Barat.

Pada umumnya eksploitasi air tanah dilakukan untuk memenuhi berbagai kebutuhan antara lain untuk  rumah tangga, untuk industri dan sebagai tambahan untuk mengairi lahan pertanian. Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga di daerah perdesaan diambil dari air tanah dangkal. Di kota-kota besar seperti Medan, Jakarta, Surabaya, Semarang dan Makasar kebutuhan akan air 70% masih menggantungkan dari pengambilan air tanah dimana sebagian besar dari jumlah tersebut dipergunakan untuk keperluan industri.

Sebagai ilustrasi dapat dikemukakan bahwa pada tahun 1970 pengambilan air tanah di wilayah ibu kota Jakarta adalah sebanyak 12,6 x 106 m3/tahun, dan pada tahun 1994 meningkat menjadi 33 x 106 m3/tahun dan pada tahun 2000 turun menjadi 17 x 106 m3/tahun. Di Bandung dan sekitarnya pada tahun 1970 pengambilan air tanah sebanyak 10 x 106 m3/tahun dan pada tahun 1996 meningkat menjadi 76 x 106 m3/tahun sedang pada tahun 1999 menurun menjadi 45 x 106 m3/tahun. Penurunan pengambilan air tanah pada akhir abad 20 dan awal abad 21 disebabkan karena pada kurun waktu tersebut sedang terjadi stagnasi pertumbuhan ekonomi sehingga banyak industri yang menghentikan aktivitasnya. Dari fakta dan data tersebut maka dapat diketahui bahwa sebagian besar air tanah yang dieksploitasi digunakan untuk industri.

Pengambilan air tanah di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan dan lain-lain diindikasikan telah melebihi kapasitas suplai akuifernya. Hal ini ditunjukkan dari terjadinya perubahan piezometric head sistem akuifer  muka air tanah yang dari tahun ke tahun makin turun. Dalam kurun waktu dari tahun 1982 – 2000 penurunan muka air tanah di wilayah Jakarta berkisar antara 20 – 60 meter di bawah muka air laut dan di Bandung mencapai 30 – 90 meter di bawah muka air laut, dimana penurunan paling drastis terjadi di kawasan  industri. Untuk perkotaan yang terletak di tepi pantai dengan terjadinya penurunan muka air tanah tersebut dapat berdampak pada terjadinya intrusi air laut. Hal ini dapat ditunjukkan dari meningkatnya kadar TDS (1000 mg/lt) dan kadar klorida air tanah (500 mg/lt) yang melebihi harga rata-rata dari air tawar.

Dampak lain dari overexploitation air tanah adalah terjadinya land subsidence. Dari perhitungan model geoteknik dapat dikemukakan bahwa eksploitasi air tanah yang sangat berlebihan berpengaruh besar terhadap Geological setting dari wilayah Jakarta. Data observasi yang dilakukan oleh Direktorat Geologi Tata Lingkungan di Bandung mencatat penurunan muka tanah antara 10 – 99 cm dalam periode dari tahun 1978 sampai 1989. Indikasi faktual dari terjadinya penurunan muka tanah adalah tejadinya genangan air di jalan-jalan dan permukiman di sebagian wilayah Jakarta pada saat turun hujan.  Penelitian dengan teknik isotop alam dalam rangka riset unggulan terpadu di wilayah Jakarta dan sekitarnya menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan pola dinamika aliran air tanah terutama di wilayah Jakarta timur yang berbatasan dengan Bekasi dan di Jakarta utara/barat yang berbatasan dengan Tangerang.

Ada suatu moto yang berbunyi : Lingkungan ini bukan warisan nenek moyang kita, melainkan titipan anak cucu kita. Dari bunyi moto tersebut maka kita sebagai manusia yang hidup pada saat ini tidak boleh berbuat sesuatu yang dapat merusak lingkungan yang dapat menyebabkan terjadinya krisis sumber daya  terutama pada air bersih yang akan dihadapi oleh anak cucu kita.

 

Sumber :

http://www.batan.go.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s